Waktu tawaf selesai, sebagian besar jamaah langsung bergerak menuju maqam Ibrahim untuk sholat dua rakaat. Wajar, karena memang itu yang diajarkan. Tapi ada satu titik kecil di dinding Ka'bah yang sering terlewat, padahal termasuk tempat paling mustajab di seluruh Masjidil Haram: Multazam.
Multazam ada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, cuma sekitar dua meter lebarnya. Tapi begitu banyak ulama dan jamaah yang telah merasakan bahwa doa di sini terasa berbeda, lebih dekat, lebih khusyuk, lebih berat rasanya untuk beranjak pergi. Kalau kamu baru akan berangkat umrah untuk pertama kali, momen ini wajib masuk dalam rencanamu. Safar bisa membantu kamu menyusun itinerary dan checklist ibadah agar tidak ada momen penting yang terlewat di mysafar.id.
Nama Multazam berasal dari kata "lazima" yang artinya melekat atau berpegang erat. Di sinilah jamaah bisa menempelkan dada, wajah, dan tangan ke dinding Ka'bah sambil berdoa langsung menghadap Baitullah.
Para ulama menyebut Multazam sebagai salah satu tempat mustajab di Makkah. Praktik berdoa di sini dikenal dari riwayat para sahabat dan telah diteruskan oleh umat Islam selama berabad-abad. Imam Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dikenal melakukannya, dan banyak ulama setelah beliau yang mewariskan amalan ini kepada umat.
Yang membuat Multazam begitu spesial bukan hanya soal keutamaannya, tapi juga pengalamannya. Saat tubuhmu menempel di dinding Ka'bah dan kamu mengucapkan nama-nama orang yang kamu cintai dalam doa, ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Banyak jamaah yang menyebut inilah momen paling emosional dalam seluruh perjalanan umrah mereka.
Tidak ada tata cara yang kaku dan wajib diikuti kata per kata. Yang dianjurkan para ulama cukup sederhana: datang ke Multazam, tempelkan tubuhmu di dinding Ka'bah, lalu berdoa dengan sepenuh hati.
Urutannya kira-kira seperti ini:
Untuk isi doanya, tidak ada batasan. Minta untuk keluargamu, kesehatan, rezeki, hidayah, ampunan. Berdoalah dalam Bahasa Indonesia kalau kamu lebih khusyuk. Allah mengerti semua bahasa dan mendengar setiap hati.
Yang paling penting: datang dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Jangan terburu-buru. Kalau kondisi sedang padat dan kamu tidak bisa menempel langsung ke dinding, cukup dekati sejauh yang kamu bisa, angkat tangan, dan berdoa. Niat dan kehadiran hatimu yang paling utama.
Butuh checklist persiapan umrah yang personal? Safar menyesuaikan checklist dengan profilmu secara gratis. Mulai di mysafar.id
Ini pertanyaan yang bagus dan jawabannya cukup sederhana: tidak ada yang memberitahu.
Sebagian besar manasik umrah fokus pada rukun dan wajib umrah, yaitu niat ihram, tawaf, sa'i, dan tahallul. Multazam adalah sunnah, bukan bagian dari rukun, jadi sering tidak masuk ke dalam materi manasik yang padat. Akibatnya, banyak jamaah baru tahu soal Multazam setelah pulang dari Makkah. Menyesal memang, tapi itulah kenyataan yang sering terjadi.
Faktor lain adalah kondisi lapangan. Areanya kecil, dan jamaah yang tahu soal Multazam akan berusaha mendekat. Kalau kamu tidak tahu harus mencari ke mana, mudah sekali terlewat begitu saja saat tawaf selesai dan semua orang mulai bergerak.
Ada juga soal rasa sungkan mendorong-dorong orang. Banyak jamaah Indonesia cenderung tidak enak untuk maju ke depan. Padahal ada cara yang lebih tenang untuk bisa sampai ke sana, asal tahu caranya.
Kunci utamanya adalah memilih waktu yang tepat dan menyiapkan diri dari jauh-jauh hari.
Datang di waktu sepi. Dini hari sekitar pukul 02.00 sampai 04.00 sebelum subuh adalah waktu paling tenang di Masjidil Haram. Jamaah jauh lebih sedikit, dan kamu bisa berdiri di Multazam lebih lama tanpa tekanan dari belakang.
Manfaatkan tawaf sunnah. Tawaf saat umrah pertamamu mungkin ramai dan buru-buru. Tapi kamu bisa kembali lagi untuk tawaf sunnah di waktu yang lebih lengang, lalu langsung melanjutkan ke Multazam setelah selesai.
Jangan menunggu kondisi sempurna. Kalau kamu tidak bisa menempel langsung ke dinding karena penuh, cukup dekati sejauh yang kamu bisa, angkat tangan, dan berdoa dari sana. Jangan pulang tanpa mencoba.
Siapkan doamu dari rumah. Banyak jamaah yang bingung mau minta apa saat sudah di sana. Padahal momen itu begitu berharga dan singkat. Tuliskan doa-doamu sebelum berangkat, hafal, atau bawa catatan kecil. Saat di Multazam, hatimu tidak akan kosong.
Bawa doa orang-orang di rumah. Multazam adalah kesempatan untuk membawa hajat seluruh keluargamu. Sebut nama mereka satu per satu, minta untuk kesehatan, keselamatan, dan hidayah mereka. Banyak jamaah yang menyebut inilah bagian paling mengharukan dari seluruh perjalanan umrah.
Multazam bukan sekadar destinasi untuk diceklis. Ini kesempatan nyata untuk berdialog langsung dengan Allah di salah satu tempat paling mulia di bumi. Jarak antara kamu dan Ka'bah bisa nol sentimeter. Manfaatkan itu.
Persiapkan dirimu sebelum berangkat: pelajari di mana posisi Multazam, tentukan kapan kamu akan ke sana, dan tuliskan semua yang ingin kamu doakan. Ketika momennya tiba, kamu tidak akan kebingungan atau lupa. Kamu akan hadir sepenuhnya, dengan hati yang siap.
Kalau ada keraguan soal tata cara yang lebih spesifik atau hal-hal teknis lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan ustaz atau pembimbing umrahmu. Mereka bisa memberikan panduan yang sesuai dengan kondisi lapangan sesungguhnya.
Baca juga
Safar adalah app gratis untuk jamaah umrah pertama. Checklist personal, panduan ibadah, kalkulator biaya, semua dalam satu tempat.
Mulai sekarang →